86. AL MUQSITH (Dzat Yang Maha Adil) Keadilan Allah Ta’ala disini tidak pernah membeda-bedakan didalam memutuskan hukum-Nya. Walaupun kekasih-Nya, apabila melakukan dosa pasti akan dihukum. Bahkan Rasulullah SAW sebagai orang yang paling mulia dan paling Dia cintai juga pernah mendapat teguran. Yaitu ketika datang orang-orang buta kepada beliau untuk diajari ilmu agama, tetapi beliau mengabaikannya. Karena beliau lebih memilih pejabat-pejabat Quraisy dengan harapan apabila mereka masuk Islam, maka akan membawa pengaruh yang besar. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Abasa (80) : 1 – 11 1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, 2. Karena telah datang seorang buta kepadanya. 3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), 4. Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? 5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, 6. Maka kamu melayaninya. 7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). 8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), 9. Sedang ia takut kepada (Allah), 10. Maka kamu mengabaikannya. 11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, Rasulullah SAW saja apabila melakukan kesalahan walaupun kecil langsung ditegur oleh Allah Ta’ala. Padahal beliau adalah orang yang paling beriman, bertaqwa dan paling cinta kepada Allah Ta'ala. Apalagi orang-orang seperti kita ini? Yang sangat rendah keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Ta'ala. Keadilan Allah Ta’ala juga dibuktikan terhadap orang-orang yang teraniaya. Bahwasannya Allah Ta’ala akan mengabulkan do’a orang-orang yang teraniaya, tidak memandang apakah dia beriman atau tidak. Dalam hidup ini banyak sekali orang-orang yang merasa bahwa apabila dia dekat dengan Allah Ta’ala, maka apabila melakukan dosa tidak dihukum. Padahal Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Adil. Siapapun orangnya apabila melakukan kesalahan pasti akan dihukum, tidak memandang apakah dia kekasihNya atau musuh-musuhNya, orang-orang yang banyak melakukan keta’atan atau orang-orang yang banyak melakukan kemaksiatan. Semuanya akan dihukum oleh Allah Ta’ala apabila melakukan dosa dan kesalahan. Selama ini kita tidak mau menjadi orang yang jujur, yaitu berani mengakui kesalahan. Sehingga apabila bersalah, kita selalu mencari-cari alasan untuk membenarkan diri walaupun dengan berbagai macam kebohongan. Padahal kita menyadari bahwa diri kita adalah salah. Akan tetapi karena mengikuti hawa nafsu, maka kita tidak mau mengakuinya. Sebagai seorang hamba, kita mempunyai Tuhan yang sangat adil didalam memutuskan suatu hukum. Oleh sebab itu kitapun harus mencontoh keadilan Allah Ta'ala ini. Maksudnya adalah, didalam memutuskan sesuatu tidak boleh membeda-bedakan atau berat sebelah. Apakah dia keluarga atau orang lain, orang rendah atau orang mulia, orang kaya atau orang miskin, semuanya harus adil dan yang kita lihat hanya kebenaran. Sebagai misal anak kita yang kita sayangi punya masalah dengan orang yang kita benci, tetapi ternyata anak kita yang salah. Maka kita tidak boleh membela anak kita sendiri. Oleh sebab itu Rasul bersabda : “Andaikata fatimah anakku mencuri, maka akan aku potong tangannya”. Pernah diceritakan siti fatimah bercanda yang membuat suaminya (Sayyidina Ali) marah, sehingga fatimah berkeliling 40 kali untuk membuat Ali tersenyum dan akhirnya upaya tersebut berhasil. Hal ini diceritakan kepada Rasulullah, maka bersabdalah beliau : “beruntunglah kamu, karena andaikata kamu mati dalam keadaan Ali belum ridho kepadamu, maka aku tidak akan mensholatkan jenazahmu”. Hal ini menceritakan tentang keadilan Rasul yang diajarkan kepada kita. Dalam hidup ini yang penting dimata Allah kita benar maka hendaklah kita pertahankan. Artinya siapapun yang akan membelokkan agama ini walaupun seorang kekasih harus kita tentang, tetapi walaupun musuh kita tetapi jika akan menegakkan agama, maka kita harus mengikutinya. KITA TIDAK PERLU KHAWATIR, tentang KEADILAN Allah ini pasti akan berlaku. Artinya walaupun dia seorang ulama’ atau pejabat, andaikata dia menzolimi kita maka Allah akan menolong kita. Oleh sebab itu dijelaskan dalam satu hadits bahwa Allah pasti mengijabah do’a orang-orang yang teraniaya. Bahkan do’a disini tidak khusus kepada orang yang beriman saja tetapi juga kepada orang yang tidak beriman. Hal ini menunjukkan tentang keadilan Allah. Oleh sebab itu seharusnya tumbuh kedalam hati kita rasa tawakkal tentang keadilan Allah, karena Allah akan menegakkan keadilanNya kepada siapapun dan tidak pandang bulu. Dalam hidup ini kita sering kali pusing karena mencari kebenaran dari kebanyakan manusia, padahal kebenaran itu hanya milik Allah. Untuk itu apabila Allah mengatakan kita benar, maka hendaklah kita pegang erat-erat dan tidak perlu takut kepada siapapun. Maka dari itu carilah satu saja kebenaran, yaitu kebenaran menurut Allah apabila ingin tenang. Karena jika kita mengikuti kebanyakan manusia, maka mereka akan menyesatkan kita dari jalan Allah. Surat Al An'aam (6) : 116 116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Kebenaran dimata manusia sedikitpun tidak bisa menyelamatkan kita diakhirat. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan diakhirat nanti adalah kebenaran menurut Allah. Oleh sebab itu yang seharusnya kita khawatirkan adalah apabila dimata manusia benar tetapi dimata Allah salah. Dalam kehidupan kita sekarang ini ada orang-orang yang menamakan dirinya “Habib”. Mereka merasa seolah-olah umat yang nomer satu sehingga mau berbuat apa saja merasa tidak akan dihukum oleh Allah. Dan ada juga orang-orang yang pandai dalam hal agama merasa pasti masuk syurga walaupun perbuatannya menyalahi hukum-hukum Allah. Ini adalah tidak benar karena Allah itu Al Muqsith. Siapapun orangnya yang berbuat tidak sesuai dengan aturanNya pasti akan mendapat hukuman nanti diakhirat. Oleh sebab itu walaupun kita pandai dalam hal agama (kiyai), sholat kita banyak, shadaqah kita banyak, ketaqwaan kita banyak jika berbuat salah tetap akan dihukum. Bahkan ada seorang Nabi yang akan dicabut kenabiannya oleh Allah karena selalu berkeluh kesah dalam mengemban tugas dari Allah. Seorang Nabi saja apabila selalu berkelu kesah akan dicabut kenabiannya apalagi orang-orang seperti kita ini. Karena hukum Allah bagi yang tidak menerima takdir diperintahkan untuk minggat dari bumiNya. Dalam menjalani kehidupan ini kita harus adil dan jujur walaupun terhadap diri sendiri dan orang lain. Artinya apabila kita berbuat salah akuilah bahwa kita memang salah serta mau mengakui kelebihan orang lain. Apabila kita tidak mau disalahkan atau dikritik berarti kita tidak adil terhadap diri sendiri. Anak seorang kiayi atau pejabat apabila berbuat salah biasanya dimaklumi, akan tetapi bagi anak yang orang tuanya tidak mampu apabila sedikit berbuat salah langsung dicerca dan dicemooh. Inilah bentuk ketidak adilan. Padahal orang yang paling mulia dimata Allah adalah yang paling bertaqwa. Bukan keturunan Nabi, kiyai, pejabat, orang kaya dan lain sebagainya. Bahkan Rasulullah bersabda : “Tidak ada kelebihan bangsa arab dari bangsa manapun kecuali ketaqwaanya”. Didalam Al Qur’an diceritakan bahwa istri Nabi Nuh dan Nabi Luth termasuk terkena azab. Dan do’a Nabi Ibrahim yang tidak mengenai orang-orang dzolim. Ini adalah bentuk keadilan Allah. Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki juga merupakan keadilanNya. Oleh sebab itu apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang untuk kehidupan akhiratnya bisa saja disakitkan badannya, disempitkan hartanya, disulitkan urusannya bahkan dipersulit dalam sakarotul maut sehingga nanti diakhirat tidak ada lagi kejahatan yang harus dibalas. Setiap perbuatan dosa akan dihukum oleh Allah tidak perduli siapapun orangnya. Akan tetapi bagi orang-orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh akan dibalas didunia dengan ringan. Dan bagi orang-orang yang tidak mau bertaubat sampai ajalnya menjemput akan dihukum nanti diakhirat. Karena andaikata orang yang berdosa tidak dihukum maka iblis akan menuntut. Dan iblis akan mengambil bagian yang sudah ditentukan untuknya. Surat An Nisaa' (4) : 117, 118, 119 117. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, 118. Yang dila'nati Allah dan syaitan itu mengatakan: "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), 119. Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya". Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Setiap saat iblis akan mengambil bagiannya yaitu orang-orang yang selalu mengikuti kefasikan, tetapi Allah selalu mempertahankan sampai tidak bisa lagi untuk dipertahankan. Oleh sebab itu Allah memberikan alasan-alasan untuk mempertahankan hambaNya agar tidak diambil oleh iblis. Salah satunya adalah membalas dosa orang-orang yang bertaubat. Allah selalu berupaya untuk menyelamatkan hambaNya, tetapi jika manusia tidak mau walaupun dipaksa selamanya tidak selamat. Ibaratnya kita punya anak yang tidak mau makan. Walaupun kita janjikan akan memberinya hadiah, atau kita marahi atau kita paksa tetapi tetap tidak mau. Sehingga apabila sang hamba tidak mau diselamatkan oleh Allah ia akan menjadi bagian iblis. Jadi yang penting kita mau untuk diselamatkan sehingga Allah akan menggiring kita dengan kelembutanNya. Standart keadilan Allah adalah Al Qur’an. Oleh sebab itu apabila perbuatan kita tidak sesuai dengan Al Qur’an berarti salah. Walaupun kita punya alasan bagaimanapun tetap salah. Maka dari itu hendaknya kita samakan kehidupan kita dengan Al Qur’an. Inilah gunanya kita memahami Al Qur’an. sehingga apabila kita ditanya oleh Allah : “wahai hambaKu kenapa kau lakukan seperti ini? kita akan menjawab : “Yaa Allah, aku berbuat seperti ini berdasarkan KitabMu (Al Qur’an). Oleh sebab itu apabila kita ingin melakukan sesuatu hendaknya kita fikirkan terlebih dahulu. Sanggup apa tidak kita mempertanggung jawabkannya nanti dihadapan Allah? Kalau tidak bisa maka jangan kita lakukan. A. Sisi Tafakkurnya Berapa banyak kita meremehkan dosa-dosa kecil, sehingga kita tidak mau memohon ampun kepada Allah? Padahal apabila kita berhadapan dengan Allah tidak ada dosa kecil, karena yang kita lihat adalah kepada siapa kita melakukan dosa dan semuanya akan diadili. Dan apabila Allah berdiri dengan keadilan-Nya, maka tidak ada satupun yang diampuni dan tidak ada satupun dari amal-amal kita yang diterima. Maka dari itu hendaklah kita berhati-hati dalam hidup ini. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang selalu merasa hina dimata-Mu, walaupun kami telah melakukan amal ibadah dan amal sholeh. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa keadilan Allah Ta'ala tidak pandang bulu. Semua manusia yang berdosa pasti akan dihukum walaupun kekasih-Nya sekalipun. Bahkan orang-orang yang dikasihi (dekat) dengan Allah Ta'ala inilah apabila melakukan kesalahan akan dihukum lebih berat dibanding manusia biasa. Rasulullah SAW bersabda : “Apabila aku dan saudaraku Isa melakukan dosa, maka Allah Ta'ala akan menghukum kami dengan hukuman yang belum pernah ditimpakan kepada satu makhluq-pun”. Sebagai contohnya apabila kita punya kekasih, lalu kekasih kita tersebut mencintai orang lain. Tentunya kita akan sangat marah kepadanya. Akan tetapi apabila orang yang tidak kita kasihi mencintai orang lain, maka kita tidak akan marah. Oleh sebab itu semakin dekat seseorang kepada Allah Ta'ala, seharusnya dia semakin berhati-hati agar Allah Ta'ala tidak cemburu. Karena Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tetapi juga Maha cemburu. Makanya Allah Ta'ala tidak mengampuni dosa syirik (menyekutukan-Nya dengan yang lain). Seringan-ringannya hukuman yang diberikan Allah Ta'ala kepada orang beriman adalah dicabutnya kenikmatan didalam beribadah. Sehingga dalam beribadah akan terasa hampa dan hidup akan gelisah. D. Sikap Orang Bertaqwa Dia sangat takut melakukan dosa. Karena siapapun orangnya yang melakukan dosa, pasti akan dihukum oleh Allah Ta'ala. Oleh sebab itu dia tidak pernah merasa bahwa dirinya sudah dekat atau mulia disisi Allah Ta'ala. Akan tetapi dia selalu berusaha untuk mendekatkan dirinya dengan Allah Ta'ala dengan cara menghindari perbuatan-perbuatan dosa. Orang-orang yang bertaqwa akan berlaku jujur dan adil didalam hidupnya. Yang dimaksud jujur adalah berani mengakui kesalahan dirinya sendiri. Sedangkan yang dimaksud adil adalah berani mengakui kebenaran orang lain walaupun musuhnya sekalipun. Oleh sebab itu apabila dirinya sendiri atau orang yang disayanginya berbuat salah, dia berani mengakuinya. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami tidak merasa mulia disisi-Mu dengan amal ibadah dan amal sholeh kami, sehingga kami meremehkan dosa-dosa kami dan tidak mau memohon ampun kepada-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Dia akan menyerahkan masalah hukum hanya kepada Allah Ta'ala. Biarlah Allah Ta'ala yang menentukan hukum, termasuk terhadap dirinya sendiri. Dan apabila dirinya salah dia siap menerima hukuman. Orang-orang yang bertawakkal apabila dia berbuat salah, maka dia berani mengakui kesalahannya, sedangkan masalah hukuman dia serahkan sepenuhnya kepada Allah Ta'ala. Dia tidak takut dengan pandangan manusia kepadanya, karena dia yakin walaupun bisa mengelak dari pandangan manusia tetapi tidak bisa mengelak dari keadilan Allah Ta'ala. Akan tetapi bagi orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu apabila berbuat salah, dia tidak mau mengakui kesalahannya. Dia selalu mencari berbagai alasan untuk membenarkan dirinya. Sehingga dia tidak merasa bersalah, apalagi mau bertaubat? G. Sikap Orang Mukhlis Andaikata dia berbuat salah didalam hidup ini, kemudian Allah Ta'ala memberikan hukuman kepadanya, maka dia sangat ikhlas menerimanya. Bahkan dia sangat senang apabila dibalas didunia, mudah-mudahan diakhirat tidak dihukum lagi. Kemudian dia akan bertaubat dan berusaha memperbaiki diri. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Muqsith Apabila ia sudah menjadi kholifah, maka didalam menentukan satu hukum ia sangat adil. Ia tidak peduli apakah yang bersalah itu orang yang disayanginya atau orang yang dibencinya, ia akan putuskan berdasarkan keadilan hukum-hukum Allah. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Muqsith Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk berlaku adil kepada manusia tentang hukum, walaupun terhadap orang-orang yang kami kasihi. Serta memperingatkan manusia tentang bagaimana menegakkan hukum-hukum Engkau walaupun terhadap orang-orang yang mereka kasihi. Agar manusia dapat melihat bahwa ssungguhnya keadilan Engkau itulah yang paling benar.